PENDAPAT MADZHAB EMPAT TENTANG BID'AH.

PENDAPAT MADZHAB EMPAT TENTANG BID'AH

Berikut pendapat ulama fiqih dari empat madzhab tentang bid'ah.



Mereka sepakat bahwa bid'ah terbagi dua yakni bid'ah baik (hasanah) dan sesat (dhalalah). Sedangkan hukumnya
bisa meliputi lima hukum syariah yaitu wajib, haram, sunnah, makruh dan mubah.

BID'AH MENURUT MAZHAB HANAFI
Ibnu Abidin dalam Hasyiyah Ibnu Abidin, hlm. 1/376, menyatakan:

ﻓﻘﺪ ﺗﻜﻮﻥ ﺍﻟﺒﺪﻋﺔ ﻭﺍﺟﺒﺔ ﻛﻨﺼﺐ ﺍﻷﺩﻟﺔ ﻟﻠﺮﺩ ﻋﻠﻰ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻔﺮﻕ ﺍﻟﻀﺎﻟﺔ، ﻭﺗﻌﻠّﻢ ﺍﻟﻨﺤﻮ
ﺍﻟﻤﻔﻬﻢ ﻟﻠﻜﺘﺎﺏ ﻭﺍﻟﺴﻨﺔ، ﻭﻣﻨﺪﻭﺑﺔ ﻛﺈﺣﺪﺍﺙ ﻧﺤﻮ ﺭﺑﺎﻁ ﻭﻣﺪﺭﺳﺔ، ﻭﻛﻞ ﺇﺣﺴﺎﻥ ﻟﻢ
ﻳﻜﻦ ﻓﻲ ﺍﻟﺼﺪﺭ ﺍﻷﻭﻝ، ﻭﻣﻜﺮﻭﻫﺔ ﻛﺰﺧﺮﻓﺔ ﺍﻟﻤﺴﺎﺟﺪ، ﻭﻣﺒﺎﺣﺔ ﻛﺎﻟﺘﻮﺳﻊ ﺑﻠﺬﻳﺬ ﺍﻟﻤﺂﻛﻞ
ﻭﺍﻟﻤﺸﺎﺭﺏ ﻭﺍﻟﺜﻴﺎﺏ

Artinya: Bid'ah terkadang wajib hukumnya seperti membuat dalil pada kelompok sesat, belajar ilmu nahwu untuk memahami Al-Quran dan Hadits.

Bid'ah terkadang hukumnya sunnah seperti mendirikan pesantren dan sekolah, dan setiap kebaikan yang tidak ada pada zaman Rasulullah.

Bid'ah itu bisa juga hukumnya makruh seperti mengukir dan menghias masjid. Bid'ah hukumnya mubah (boleh) seperti berlapang diri dalam memakan makanan lezat dan minuman enak dan pakaian bagus.

Badruddin Al-Aini dalam Syarah Sahih Bukhari, hlm. 11/126,
ketika mengomentari perkataan Umar bin Khattab "nikmatul bid'ah hadzihi" saat berkumpulnya manusia untuk shalat
tarawih di belakang imam di mana sebelumnya jamaah shalat
tarawih dilakukan sendiri-sendiri:

ﻭﺍﻟﺒﺪﻋﺔ ﻓﻲ ﺍﻷﺻﻞ ﺇﺣﺪﺍﺙ ﺃﻣﺮ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻓﻲ ﺯﻣﻦ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ
ﻭﺳﻠﻢ، ﺛﻢ ﺍﻟﺒﺪﻋﺔ ﻋﻠﻰ ﻧﻮﻋﻴﻦ، ﺇﻥ ﻛﺎﻧﺖ ﻣﻤﺎ ﺗﻨﺪﺭﺝ ﺗﺤﺖ ﻣﺴﺘﺤﺴﻦ ﻓﻲ ﺍﻟﺸﺮﻉ
ﻓﻬﻲ ﺑﺪﻋﺔ ﺣﺴﻨﺔ ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻧﺖ ﻣﻤﺎ ﻳﻨﺪﺭﺝ ﺗﺤﺖ ﻣﺴﺘﻘﺒﺢ ﻓﻲ ﺍﻟﺸﺮﻉ ﻓﻬﻲ ﺑﺪﻋﺔ
ﻣﺴﺘﻘﺒﺤﺔ

Artinya: Bid'ah pada asalnya adalah membuat perkara yang  tidak terdapat di zaman Rasulullah. Bid'ah ada dua macam:
apabila baik menurut syariah maka disebut bid'ah hasanah (baik).

Apabila buruk menurut syriah, maka disebut bid'ah buruk (mustaqbihah).
BID'AH MENURUT MAZHAB MALIKI
Muhammad Al-Zarqoni dalam Syarah Muwatta, hlm. 1/238, ketika menjelaskan perkata Umar "sebaik-baik bid'ah adalah ini"
( ﻧﻌﻤﺖ ﺍﻟﺒﺪﻋﺔ ﻫﺬﻩ ):
ﻓﺴﻤﺎﻫﺎ ﺑﺪﻋﺔ ﻷﻧﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠّﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻟﻢ ﻳﺴﻦّ ﺍﻻﺟﺘﻤﺎﻉ ﻟﻬﺎ ﻭﻻ ﻛﺎﻧﺖ ﻓﻲ ﺯﻣﺎﻥ
ﺍﻟﺼﺪﻳﻖ، ﻭﻫﻲ ﻟﻐﺔ ﻣﺎ ﺃُﺣﺪﺙ ﻋﻠﻰ ﻏﻴﺮ ﻣﺜﺎﻝ ﺳﺒﻖ ﻭﺗﻄﻠﻖ ﺷﺮﻋًﺎ ﻋﻠﻰ ﻣﻘﺎﺑﻞ ﺍﻟﺴﻨﺔ
ﻭﻫﻲ ﻣﺎ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻓﻲ ﻋﻬﺪﻩ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠّﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ، ﺛﻢ ﺗﻨﻘﺴﻢ ﺇﻟﻰ ﺍﻷﺣﻜﺎﻡ ﺍﻟﺨﻤﺴﺔ.
ﺍﻧﺘﻬﻰ

Artinya: Umar bin Khattab menyebutnya bid'ah karena Nabi tidak pernah melakukan shalat taraweh secara berjemaah juga
tidak di zaman Abu Bakar Ash-Shiddiq. Bid'ah secara bahasa adalah sesuatu yang dibuat tanpa ada contoh sebelumnya.

Secara syariah bid'ah secara mutlak bermakna sesuatu yang berhadapan dengan sunnah yang tidak ada pada zaman Nabi.

Bid'ah terbagi menjadi hukum yang lima.
Ahmad bin Yahya Al-Wansyarisi dalam Al-Mi'yar Al-Mu'rib, hlm. 1/357, menyatakan:

ﻭﺃﺻﺤﺎﺑﻨﺎ ﻭﺇﻥ ﺍﺗﻔﻘﻮﺍ ﻋﻠﻰ ﺇﻧﻜﺎﺭ ﺍﻟﺒﺪﻉ ﻓﻲ ﺍﻟﺠﻤﻠﺔ ﻓﺎﻟﺘﺤﻘﻴﻖ ﺍﻟﺤﻖ ﻋﻨﺪﻫﻢ ﺃﻧﻬﺎ
ﺧﻤﺴﺔ ﺃﻗﺴﺎﻡ ... ﻓﺎﻟﺤﻖ ﻓﻲ ﺍﻟﺒﺪﻋﺔ ﺇﺫﺍ ﻋُﺮﺿﺖ ﺃﻥ ﺗﻌﺮﺽ ﻋﻠﻰ ﻗﻮﺍﻋﺪ ﺍﻟﺸﺮﻉ ﻓﺄﻱ
ﺍﻟﻘﻮﺍﻋﺪ ﺍﻗﺘﻀﺘﻬﺎ ﺃﻟﺤﻘﺖ ﺑـﻬﺎ، ﻭﺑﻌﺪ ﻭﻗﻮﻓﻚ ﻋﻠﻰ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺘﺤﺼﻴﻞ ﻭﺍﻟﺘﺄﺻﻴﻞ ﻻ ﺗﺸﻚ
ﺃﻥ ﻗﻮﻟﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ": ﻛﻞ ﺑﺪﻋﺔ ﺿﻼﻟﺔ" ، ﻣﻦ ﺍﻟﻌﺎﻡ ﺍﻟﻤﺨﺼﻮﺹ ﻛﻤﺎ
ﺻﺮﺡ ﺑﻪ ﺍﻷﺋﻤﺔ ﺭﺿﻮﺍﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻬﻢ

Artinya: Ulama mazhab Maliki walaupun mereka sepakat untuk mengingkari bid'ah secara umum, namum kenyataannya
adalah bid'ah menurut mereka terbagi dalam lima bagian ...
Yang benar dalam soal bid'ah adalah apabila dihadapkan pada kaidah syariah maka dengan kaidah syariah mana yang sesuai maka itulah hukumnya.

Dari kesimpulan ini, maka sabda Nabi bahwa "setiap bid'ah adalah sesat" itu termasuk
dari kalimat umum yang berlaku khusus sebagaimana dijelaskan oleh para ulama.

MAZHAB SYAFI'I TENTANG BID'AH
Imam Syafi'i sebagaimana dinukil oleh Baihaqi dalam Manaqib Al-Syafi'i, hlm. 1/469, dan disebutkan juga oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari, hlm. 13/267, menyatakan:

ﺍﻟﻤﺤﺪﺛﺎﺕ ﻣﻦ ﺍﻷﻣﻮﺭ ﺿﺮﺑﺎﻥ ﺃﺣﺪﻫﻤﺎ ﻣﺎ ﺃﺣﺪﺙ ﻳﺨﺎﻟﻒ ﻛﺘﺎﺑﺎ ﺃﻭ ﺳﻨﺔ ﺃﻭ ﺃﺛﺮﺍ ﺃﻭ
ﺇﺟﻤﺎﻋﺎ ﻓﻬﺬﻩ ﺍﻟﺒﺪﻋﺔ ﺍﻟﻀﻼﻟﺔ، ﻭﺍﻟﺜﺎﻧﻲ ﻣﺎ ﺃﺣﺪﺙ ﻣﻦ ﺍﻟﺨﻴﺮ ﻻ ﺧﻼﻑ ﻓﻴﻪ ﻟﻮﺍﺣﺪ ﻣﻦ
ﻫﺬﺍ، ﻓﻬﺬﻩ ﻣﺤﺪﺛﺔ ﻏﻴﺮ ﻣﺬﻣﻮﻣﺔ ..

Artinya: Perkara baru (muhdas al-umur) ada dua macam.
Pertama, perkara baru yang berlawanan dengan Al-Quran, Sunnah Nabi, Atsar Sahabat atau ijmak ulama, maka disebut bid'ah dolalah.

Kedua, perkara baru yang baik yang tidak
menyalahi unsur-unsur di atas maka tidaklah tercela.
Abu Nuaim dalam kitab Hilyah Al-Aulia, hlm. 9/76 meriwayatkan pernyataan Imam Syafi'i di mana ia berkata:

ﺍﻟﺒﺪﻋﺔ ﺑﺪﻋﺘﺎﻥ، ﺑﺪﻋﺔ ﻣﺤﻤﻮﺩﺓ، ﻭﺑﺪﻋﺔ ﻣﺬﻣﻮﻣﺔ. ﻓﻤﺎ ﻭﺍﻓﻖ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﻓﻬﻮ ﻣﺤﻤﻮﺩ، ﻭﻣﺎ
ﺧﺎﻟﻒ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﻓﻬﻮ ﻣﺬﻣﻮﻡ، ﻭﺍﺣﺘﺞ ﺑﻘﻮﻝ ﻋﻤﺮ ﺑﻦ ﺍﻟﺨﻄﺎﺏ ﻓﻲ ﻗﻴﺎﻡ ﺭﻣﻀﺎﻥ : ﻧﻌﻤﺖ
ﺍﻟﺒﺪﻋﺔ ﻫﻲ
Artinya: Bid'ah itu ada dua: bid'ah terpuji (mahmudah) dan bid'ah tercela (madzmumah). Bid'ah yang sesuai Sunnah
disebut bidah terpuji.

Yang berlawanan dengan sunnah disebut
bid'ah tercela. Imam Syafi'i berargumen dengan perkataan Umar bin Khattab dalam soal shalat tarawih bulan Ramadan:
"Sebaik-baik bid'ah adalah ini."
Imam Ghozali
Imam Ghazali dalam Ihya Ulumuddin, hlm. 2/3, "Bab Tatacara Makan", menyatakan:

ﻭﻣﺎ ﻳﻘﺎﻝ ﺇﻧﻪ ﺃﺑﺪﻉ ﺑﻌﺪ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﻠﻴﺲ ﻛﻞ ﻣﺎ ﺃﺑﺪﻉ ﻣﻨﻬﻴﺎ
ﺑﻞ ﺍﻟﻤﻨﻬﻲ ﺑﺪﻋﺔ ﺗﻀﺎﺩ ﺳﻨﺔ ﺛﺎﺑﺘﺔ ﻭﺗﺮﻓﻊ ﺃﻣﺮﺍ ﻣﻦ ﺍﻟﺸﺮﻉ ﻣﻊ ﺑﻘﺎﺀ ﻋﻠﺘﻪ ﺑﻞ ﺍﻹﺑﺪﺍﻉ
ﻗﺪ ﻳﺠﺐ ﻓﻲ ﺑﻌﺾ ﺍﻷﺣﻮﺍﻝ ﺇﺫﺍ ﺗﻐﻴﺮﺕ ﺍﻷﺳﺒﺎﺑـ

Artinya: Apa yang dikatakan bahwa itu adalah bid'ah, maka tidaklah semua bid'ah itu dilarang.

Yang dilarang itu adalah
bid'ah berlawanan dengan sunnah yang tetap ... Bid'ah terkadang wajib dalam sebagian situasi apabila sebab- sebabnya berubah.

Imam Nawawi
Imam Nawawi dalam Syarah Muslim, hlm. 6/154-155, menyatakan:

ﻗﻮﻟﻪ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ: ‏(ﻭَﻛُﻞُّ ﺑِﺪْﻋَﺔٍ ﺿَﻼَﻟَﺔٌ ‏) ﻫﺬﺍ ﻋﺎﻡٌّ ﻣﺨﺼﻮﺹ، ﻭﺍﻟﻤﺮﺍﺩ:
ﻏﺎﻟﺐ ﺍﻟﺒﺪﻉ. ﻗﺎﻝ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻠُّﻐﺔ: ﻫﻲ ﻛﻞّ ﺷﻲﺀ ﻋﻤﻞ ﻋَﻠَﻰ ﻏﻴﺮ ﻣﺜﺎﻝ ﺳﺎﺑﻖ . ﻗﺎﻝ
ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ: ﺍﻟﺒﺪﻋﺔ ﺧﻤﺴﺔ ﺃﻗﺴﺎﻡ : ﻭﺍﺟﺒﺔ، ﻭﻣﻨﺪﻭﺑﺔ، ﻭﻣﺤﺮَّﻣﺔ، ﻭﻣﻜﺮﻭﻫﺔ، ﻭﻣﺒﺎﺣﺔ.
ﻓﻤﻦ ﺍﻟﻮﺍﺟﺒﺔ: ﻧﻈﻢ ﺃﺩﻟَّﺔ ﺍﻟﻤﺘﻜﻠّﻤﻴﻦ ﻟﻠﺮَّﺩّ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻤﻼﺣﺪﺓ ﻭﺍﻟﻤﺒﺘﺪﻋﻴﻦ ﻭﺷﺒﻪ ﺫﻟﻚ.
ﻭﻣﻦ ﺍﻟﻤﻨﺪﻭﺑﺔ: ﺗﺼﻨﻴﻒ ﻛﺘﺐ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻭﺑﻨﺎﺀ ﺍﻟﻤﺪﺍﺭﺱ ﻭﺍﻟﺮّﺑﻂ ﻭﻏﻴﺮ ﺫﻟﻚ. ﻭﻣﻦ
ﺍﻟﻤﺒﺎﺡ : ﺍﻟﺘّﺒﺴﻂ ﻓﻲ ﺃﻟﻮﺍﻥ ﺍﻷﻃﻌﻤﺔ ﻭﻏﻴﺮ ﺫﻟﻚ . ﻭﺍﻟﺤﺮﺍﻡ ﻭﺍﻟﻤﻜﺮﻭﻩ ﻇﺎﻫﺮﺍﻥ، ﻭﻗﺪ
ﺃﻭﺿﺤﺖ ﺍﻟﻤﺴﺄﻟﺔ ﺑﺄﺩﻟَّﺘﻬﺎ ﺍﻟﻤﺒﺴﻮﻃﺔ ﻓﻲ ‏( ﺗـﻬﺬﻳﺐ ﺍﻷﺳﻤﺎﺀ ﻭﺍﻟﻠُّﻐﺎﺕ‏) ﻓﺈﺫﺍ ﻋﺮﻑ ﻣﺎ
ﺫﻛﺮﺗﻪ ﻋﻠﻢ ﺃﻥَّ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﺎﻡّ ﺍﻟﻤﺨﺼﻮﺹ، ﻭﻛﺬﺍ ﻣﺎ ﺃﺷﺒﻬﻪ ﻣﻦ ﺍﻷﺣﺎﺩﻳﺚ
ﺍﻟﻮﺍﺭﺩﺓ، ﻭﻳﺆﻳّﺪ ﻣﺎ ﻗﻠﻨﺎﻩ ﻗﻮﻝ ﻋﻤﺮ ﺑﻦ ﺍﻟﺨﻄَّﺎﺏ ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻨْﻪُ ﻓﻲ ﺍﻟﺘّـَﺮﺍﻭﻳﺢ : ﻧﻌﻤﺖ
ﺍﻟﺒﺪﻋﺔ، ﻭﻻ ﻳﻤﻨﻊ ﻣﻦ ﻛﻮﻥ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﻋﺎﻣًّﺎ ﻣﺨﺼﻮﺻًﺎ ﻗﻮﻟﻪ : ‏( ﻛُﻞُّ ﺑِﺪْﻋَﺔٍ‏) ﻣﺆﻛّﺪًﺍ ﺑـــــــ
ﻛﻞّ، ﺑﻞ ﻳﺪﺧﻠﻪ ﺍﻟﺘَّﺨﺼﻴﺺ ﻣﻊ ﺫﻟﻚ ﻛﻘﻮﻟﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ } : ﺗُﺪَﻣّﺮُ ﻛُﻞَّ ﺷَﻰﺀٍ{ ‏[ ﺍﻷﺣﻘﺎﻑ،ﺀﺍﻳﺔ
25‏]ﺍﻫـ

Artinya: Sabda Nabi "Setiap bid'ah itu sesat" Kalimat ini bersifat umum yang khusus. Maksudnya adalah umumnya bid'ah. Ahli bahasa berkata:
Bid'ah adalah setiap sesuatu yang dilakukan tanpa ada contoh sebelumnya.
Ulama berkata:
Bid'ah ada lima bagian yaitu wajib, sunnah, haram, makruh dan mubah. Termasuk bid'ah wajib adalah penyusunan argumen kalangan ulama ilmu kalam untuk menolak kalangan
mulhid dan mubtadi' dan sejenisnya. Termasuk bid'ah sunnah adalah penyusunan kitab ilmu dan membangun madrasah dan
asrama dan lainnya.

Termasuk bid'ah boleh (mubah) adalah
tidak membatasi dalam membuat warna makanan dan lainnya.

Sedangkan bid'ah yang haram dan makruh sudah jelas dan sudah saya jelaskan hal ini dengan dalil-dalilnya yang luas dalam kitab Tahdzib al-Asma wa Al-Shifat. Apabila sudah diketahui apa yang saya sebut, maka dapat
disimpulkan bahwa hadits di atas termasuk hadits umum yang berlaku khusus.

Begitu juga dengan hadits-hadits lain yang
serupa. Hal ini dikuatkan oleh perkataan Umar bin Khattab dalam shalat taraweh "sebaik-baik bid'ah." Sabda Nabi "setiap
bid'ah" ( ﻛُﻞُّ ﺑِﺪْﻋَﺔٍ ) -- walalupun dikuatkan dengan kata 'setiap'-- tidak mencegah dari adanya hadis ini bersifat umum yang
khusus. Bahkan kata "kullu" itu berfungsi takhsis (pengkhususan) sebagaiman firman Allah dalam QS Al-Ahqaf
:25 (ُُ ﺗُﺪَﻣّﺮ ﻛُﻞَّ ﺷَﻰﺀٍ )

"yang menghancurkan segala sesuatu."
MADZHAB HANBALI TENTANG BID'AH
Syamsuddin Muhammad bin Abil Fath Al-Ba'li dalam Al- Muttali' ala Abwab Al-Muqni', hlm. 334, pada "Kitab Talaq" menyatakan:

ﻭﺍﻟﺒﺪﻋﺔ ﻣﻤﺎ ﻋُﻤﻞ ﻋﻠﻰ ﻏﻴﺮ ﻣﺜﺎﻝ ﺳﺎﺑﻖ، ﻭﺍﻟﺒﺪﻋﺔ ﺑﺪﻋﺘﺎﻥ: ﺑﺪﻋﺔ ﻫﺪﻯ ﻭﺑﺪﻋﺔ
ﺿﻼﻟﺔ، ﻭﺍﻟﺒﺪﻋﺔ ﻣﻨﻘﺴﻤﺔ ﺑﺎﻧﻘﺴﺎﻡ ﺃﺣﻜﺎﻡ ﺍﻟﺘﻜﻠﻴﻒ ﺍﻟﺨﻤﺴﺔ .

Artinya: Bid'ah adalah perkara yang dilakukan tanpa ada contoh sebelumnya. Bid'ah terbagi dua: bid'ah hidayah (huda) dan bid'ah sesat (dhalalah).

Bid'ah terbagi sesuai dengan pembagian hukum-hukum taklif yang lima (wajib, sunnah, haram, makruh, mubah). Ibnu Arabi (25 July 1165 – 8 November 1240) Ibnu Arabi menyatakan bahwa bid'ah dan perkara baru tidak otomatis sesat:

ﻟﻴﺴﺖ ﺍﻟﺒﺪﻋﺔ ﻭﺍﻟﻤﺤﺪَﺙ ﻣﺬﻣﻮﻣﻴﻦ ﻟﻠﻔﻆ ﺑﺪﻋﺔ ﻭﻣﺤﺪﺙ ﻭﻻ ﻣﻌﻨﻴﻴﻬﻤﺎ، ﻭﺇﻧﻤﺎ ﻳﺬﻡ
ﻣﻦ ﺍﻟﺒﺪﻋﺔ ﻣﺎ ﻳﺨﺎﻟﻒ ﺍﻟﺴﻨﺔ، ﻭﻳﺬﻡ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺤﺪﺛﺎﺕ ﻣﺎ ﺩﻋﺎ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻀﻼﻟﺔ

Artinya: Bid'ah dan perkara baru tidaklah otomatis tercela. Bid'ah itu tercela apabila menyalahi sunnah. Perkara baru itu tercela apabila membawa pada kesesatan.

BID'AH MENURUT IBNU TAIMIYAH
Berikut definisi dan hukum bid'ah menurut Ibnu Taimiyah:

Ibnu Taimiyah dalam Majmuk Al-Fatawa, hlm. 1/161-162 dan dalam kitabnya yang bernama Qaidah Jalilah fi Al-Tawassul
wa Al-Wasilah, hlm. 2/28, ia menyatakan:

ﻭﻛﻞ ﺑﺪﻋﺔ ﻟﻴﺴﺖ ﻭﺍﺟﺒﺔ ﻭﻻﻣﺴﺘﺤﺒﺔ ﻓﻬﻲ ﺑﺪﻋﺔ ﺳﻴﺌﺔ، ﻭﻫﻲ ﺿﻼﻟﺔ ﺑﺎﺗﻔﺎﻕ
ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ. ﻭﻣﻦ ﻗﺎﻝ ﻓﻲ ﺑﻌﺾ ﺍﻟﺒﺪﻉ ﺇﻧﻬﺎ ﺑﺪﻋﺔ ﺣﺴﻨﺔ ﻓﺈﻧﻤﺎ ﺫﻟﻚ ﺇﺫﺍ ﻗﺎﻡ ﺩﻟﻴﻞ
ﺷﺮﻋﻲ ﻋﻠﻰ ﺃﻧﻬﺎ ﻣﺴﺘﺤﺒﺔ، ﻓﺄﻣﺎ ﻣﺎ ﻟﻴﺲ ﺑﻤﺴﺘﺤﺐ ﻭﻻ ﻭﺍﺟﺐ ﻓﻼ ﻳﻘﻮﻝ ﺃﺣﺪ ﻣﻦ
ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﺇﻧﻬﺎ ﻣﻦ ﺍﻟﺤﺴﻨﺎﺕ ﺍﻟﺘﻰ ﻳﺘﻘﺮﺏ ﺑﻬﺎ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻠﻪ

Artinya: Setiap bid'ah yang tidak wajib dan tidak sunnah maka disebut bid'ah buruk (sayyi'ah). Bid'ah buruk hukumnya sesat menurut kesepakatan ulama.

Yang mengatakan bahwa sebagian bid'ah itu bid'ah hasanah maka itu bisa terjadi apabila ada dalil syar'i yang menyatakan sunnah. Adapun bid'ah yang tidak sunnah dan tidak wajib maka tidak ada satu ulama pun yang menyatakan sebagai bid'ah hasanah untuk
beribadah pada Allah.

Ibnu Taimiyah dalam Majmuk Al-Fatawa, hlm. 20/163, mengutip pembagian bid'ah menjadi dua oleh Imam Syafi'i:

ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺸّﺎﻓﻌﻲّ - ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠّﻪ :- ﺍﻟﺒﺪﻋﺔ ﺑﺪﻋﺘﺎﻥ: ﺑﺪﻋﺔ ﺧﺎﻟﻔﺖ ﻛﺘﺎﺑًﺎ ﻭﺳﻨّﺔً ﻭﺇﺟﻤﺎﻋًﺎ
ﻭﺃﺛﺮًﺍ ﻋﻦ ﺑﻌﺾ ﺃﺻﺤﺎﺏ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠّﻪ ﺻﻠّﻰ ﺍﻟﻠّﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠّﻢ ﻓﻬﺬﻩ ﺑﺪﻋﺔ ﺿﻼﻟﺔٍ.
ﻭﺑﺪﻋﺔ ﻟﻢ ﺗﺨﺎﻟﻒ ﺷﻴﺌًﺎ ﻣﻦ ﺫﻟﻚ ﻓﻬﺬﻩ ﻗﺪ ﺗﻜﻮﻥ ﺣﺴﻨﺔً ﻟﻘﻮﻝ ﻋﻤﺮ: ﻧﻌﻤﺖ ﺍﻟﺒﺪﻋﺔ
ﻫﺬﻩ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻜﻼﻡ ﺃﻭ ﻧﺤﻮﻩ ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺒﻴﻬﻘﻲ ﺑﺈﺳﻨﺎﺩﻩ ﺍﻟﺼّﺤﻴﺢ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺪﺧﻞ .

Artinya: Imam Syafi'i berkata: Bid'ah ada dua: Bid'ah yang berlawanan dengan Al-Quran dan Sunnah Nabi, ijmak ulama dan atsar Sahabat maka disebut bid'ah sesat (dholalah) dan bid'ah yang tidak menyalahi Al-Quran dll maka disebut bid'ah baik (hasanah) berdasarkan ucapan Umar: "Sebaik-baik bid'ah adalah ini." Perkataan Imam Syafi'i ini diriwayatkan oleh
Baihaqi dengan sanad yang sahih.
Dalam Majmuk Al-Fatawa hlm. 27/152 Ibnu Taimiyah menyatakan:

ﺇﺫًﺍ ﺍﻟﺒﺪﻋﺔ ﺍﻟﺤﺴﻨﺔ - ﻋﻨﺪ ﻣﻦ ﻳﻘﺴّﻢ ﺍﻟﺒﺪﻉ ﺇﻟﻰ ﺣﺴﻨﺔٍ ﻭﺳﻴّﺌﺔٍ - ﻻ ﺑﺪّ ﺃﻥ ﻳﺴﺘﺤﺒّﻬﺎ
ﺃﺣﺪ ﻣﻦ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺍﻟّﺬﻳﻦ ﻳﻘﺘﺪﻯ ﺑـﻬﻢ ﻭﻳﻘﻮﻡ ﺩﻟﻴﻞ ﺷﺮﻋﻲّ ﻋﻠﻰ ﺍﺳﺘﺤﺒﺎﺑـﻬﺎ ﻭﻛﺬﻟﻚ
ﻣﻦ ﻳﻘﻮﻝ : ﺍﻟﺒﺪﻋﺔ ﺍﻟﺸّﺮﻋﻴّﺔ ﻛﻠّﻬﺎ ﻣﺬﻣﻮﻣﺔ ﻟﻘﻮﻟﻪ ﺻﻠّﻰ ﺍﻟﻠّﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠّﻢ ﻓﻲ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ
ﺍﻟﺼّﺤﻴﺢ: } ﻛﻞّ ﺑﺪﻋﺔٍ ﺿﻼﻟﺔ{ ﻭﻳﻘﻮﻝ ﻗﻮﻝ ﻋﻤﺮ ﻓﻲ ﺍﻟﺘّﺮﺍﻭﻳﺢ " : ﻧﻌﻤﺖ ﺍﻟﺒﺪﻋﺔ ﻫﺬﻩ "
ﺇﻧّﻤﺎ ﺃﺳﻤﺎﻫﺎ ﺑﺪﻋﺔً: ﺑﺎﻋﺘﺒﺎﺭ ﻭﺿﻊ ﺍﻟﻠّﻐﺔ. ﻓﺎﻟﺒﺪﻋﺔ ﻓﻲ ﺍﻟﺸّﺮﻉ ﻋﻨﺪ ﻫﺆﻻﺀ ﻣﺎ ﻟﻢ ﻳﻘﻢ
ﺩﻟﻴﻞ ﺷﺮﻋﻲّ ﻋﻠﻰ ﺍﺳﺘﺤﺒﺎﺑﻪ ﺍﻫـ

Artinya: Jadi, bid'ah hasanah (baik) - menurut mereka yang membagi bid'ah menjadi hasanah dan sayyi'ah - harus disunnahkan oleh seorang ulama yang jadi panutan dan menunjukkan dalil syar'i atas kesunnahannya. Begitu juga ulama yang menyatakan bahwa semua bid'ah syar'iyah itu tercela (madzmumah) berdasarkan pada sabda Nabi "setiap bid'ah itu sesat" dan mengatakan bahwa ucapan Umar dalam shalat tarawih "sebaik-baik bid'ah itu ini" dialihkan sebagai bid'ah secara bahasa.

Menurut golongan kedua ini, bid'ah secara syariah adalah suatu perbuatan yang tidak berdasarkan pada dalil syar'i atas kesunnahannya.
Ibnu Taimiyah dalam kitabnya Al-Furqon baina Auliya Al- Rahman wa Aulia Al-Syaiton, hlm. 1/162, menyatakan:

ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺸّﺎﻓﻌﻲّ " ﺍﻟﺒﺪﻋﺔ ﺑﺪﻋﺘﺎﻥ: ﻣﺤﻤﻮﺩﺓ ﻭﻣﺬﻣﻮﻣﺔ، ﻓﻤﺎ ﻭﺍﻓﻖ ﺍﻟﺴّﻨّﺔ ﻓﻬﻮ ﻣﺤﻤﻮﺩ
ﻭﻣﺎ ﺧﺎﻟﻔﻬﺎ ﻓﻬﻮ ﻣﺬﻣﻮﻡ " ﺃﺧﺮﺟﻪ ﺃﺑﻮ ﻧﻌﻴﻢ ﺑﻤﻌﻨﺎﻩ ﻣﻦ ﻃﺮﻳﻖ ﺇﺑﺮﺍﻫﻴﻢ ﺑﻦ ﺍﻟﺠﻨﻴﺪ
ﻋﻦ ﺍﻟﺸّﺎﻓﻌﻲّ، ﻭﺟﺎﺀ ﻋﻦ ﺍﻟﺸّﺎﻓﻌﻲّ ﺃﻳﻀًﺎ ﻣﺎ ﺃﺧﺮﺟﻪ ﺍﻟﺒﻴﻬﻘﻲّ ﻓﻲ ﻣﻨﺎﻗﺒﻪ
ﻗﺎﻝ " ﺍﻟﻤﺤﺪﺛﺎﺕ ﺿﺮﺑﺎﻥ ﻣﺎ ﺃﺣﺪﺙ ﻳﺨﺎﻟﻒ ﻛﺘﺎﺑًﺎ ﺃﻭ ﺳﻨّﺔ ﺃﻭ ﺃﺛﺮًﺍ ﺃﻭ ﺇﺟﻤﺎﻋًﺎ ﻓﻬﺬﻩ
ﺑﺪﻋﺔ ﺍﻟﻀّﻼﻝ، ﻭﻣﺎ ﺃﺣﺪﺙ ﻣﻦ ﺍﻟﺨﻴﺮ ﻻ ﻳﺨﺎﻟﻒ ﺷﻴﺌًﺎ ﻣﻦ ﺫﻟﻚ ﻓﻬﺬﻩ ﻣﺤﺪﺛﺔ ﻏﻴﺮ
ﻣﺬﻣﻮﻣﺔ " ﺍﻧﺘﻬﻰ. ﻭﻗﺴّﻢ ﺑﻌﺾ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﺍﻟﺒﺪﻋﺔ ﺇﻟﻰ ﺍﻷﺣﻜﺎﻡ ﺍﻟﺨﻤﺴﺔ ﻭﻫﻮ ﻭﺍﺿﺢ.ﺍ

Artinya: Imam Syafi'i berkata: Bid'ah terbagi dua, terpuji (mahmudah) dan tercela (madzmumah). Yang sesuai dengan sunnah disebut terpuji sedangkan yang menyalahi sunnah disebut tercela. Pernyataan Imam Syafi'i ini diriwayatkan oleh Abu Nuaim dari jalur Ibrohim bin Junaid dari Syafi'i. Juga dari
Syafi'i pernyataan yang diriwayatkan oleh Baihaqi dalam Manaqib Syafi'i di mana Syafi'i berkata: "Perkara baru itu ada dua macam, pertama, perkara yang menyalahi Al-Quran,
Sunnah, atsar Sahabat Nabi, ijmak ulama, maka ini disebut bid'ah sesat.

Kedua, perkara baru yang baik yang tidak
berlawanan dengan sesuatu pun dari yang disebut maka ini disebut perkara baru yang tidak tercela." Sebagian ulama membagi bid'ah berdasarkan hukum yang lima. Ini jelas.

Dalam kitabnya yang lain yaitu Iqtishad Al-Shirat al-Mustaqim, hlm 297, Ibnu Taimiyah mengatakan:

ﻓﺘﻌﻈﻴﻢ ﺍﻟﻤﻮﻟﺪ ﻭﺍﺗﺨﺎﺫﻩ ﻣﻮﺳﻤﺎ ﻗﺪ ﻳﻔﻌﻠﻪ ﺑﻌﺾ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻭﻳﻜﻮﻥ ﻟﻪ ﻓﻴﻪ ﺃﺟﺮ ﻋﻈﻴﻢ
ﻟﺤﺴﻦ ﻗﺼﺪﻩ ﻭﺗﻌﻈﻴﻤﻪ ﻟﺮﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺁﻟﻪ ﻭﺳﻠﻢ .
Artinya:
Mengagungkan maulid Nabi dan menjadikannya sebagai rutin dilakukan oleh sebagian orang dan ia akan mendapat pahala besar karena kebaikan niatnya dan pengangungannya pada Rasulullah.

Komentar